nafasku
panjang. Deketin nggak, deketin nggak, duuh! Sisca ayo coba dong jangan jadi ciut gini deh! "Ehem," dehemku kepada Nathan yang sekarang berada di sampingku untuk mencari novel insipiratif kesukaannya. "Apa?" Jawabnya datar, nyaris seperti bisikan. "Dih situ sombong banget sih pak? Jawabnya judes banget sih mirip nenek lampir," ujarku sambil terkekeh. Tetapi ekspresi Nathan tetap sama. Datar banget mirip triplek. "Kalo gak ada yang penting buat diomongin, aku permisi." Jawabnya sambil membalikkan badan. Aku melongo, mengedip-ngedipkan mataku. Apa? Bahkan gunung es kalah dingin sama nih cowok! Udara di kutub sekalipun! Aku pun segera menyusul Nathan. "Woy! Aku masih bicara tau seenaknya ninggal! Mentang-mentang situ ganteng nglebihin Afgan situ jadi seenaknya, huh?" teriakku tak peduli meski kami masih berada di perpustakaan. Nathan berbalik dan melotot ke arahku sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling, menyadari kini kami berdua menjadi pusat perhatian. Dia pun meraih tanganku. "Bicara diluar kalo perlu bicara, jangan jadi cewek bar-bar. Norak," ucapnya pedas. We O We, nih cowok ya! Udah sedingin gunung es, ternyata mulutnya mirip pedang. Setelah kami diluar perpus, aku mengutarakan perasaanku, "heh! Yang bar-bar siapa?! Situ juga yang mulai perkara! Eh, asal tau aja ya, aku cuma mau ngomong maaf soal pertemuan pertama kita yang kurang menyenangkan, Tuan Gunung Es. Kalo situ sudah menganggap saya wabah, baik. Setidaknya saya sudah mengutarakan apa yang mau saya sampaikan kepada anda, Mister Sombong. Kalau begitu saya permisi, Tuan Nathan Herdika!" ujarku sambil berlalu. "Jangan mengatai orang sembarangan, Nona Ceroboh," Aku membalikkan badanku dan menatap Nathan "Heh! Situ maunya apa sih?! Sudah bersikap abnormal, nyalahin orang sembarangan, dan-" "Jangan jadi cewek bar-bar, sudah ku bilang. Norak. Jagalah image mu sebagai cewek yang sopan." jawabnya dengan nada final kemudian dia berbalik. Dia benar-benar tau cara menyulut emosi seseorang. Nathan Herdika! Tunggu saja pembalasanku!
*----------------------------------------------------------------------------------------------------------*
H-7 Ujian Nasional. Aku mempersiapkan diriku semaksimal mungkin untuk menghadapi ujian terakhirku di SMA ini. Sejak terakhir percakapan panas ku dengan Nathan 3 bulan lalu di perpustakaan, aku tidak pernah menyapa nya lagi. Kami hanya bertukar pandang beberapa detik kemudian memalingkan wajah masing-masing. Sebenernya rindu juga sih sama tuh cowok, tunggu. Rindu? Bahkan pertemuan awal kami bisa dibilang tidak baik, lalu kenapa aku harus rindu kepada cowok gunung es itu? Yang benar saja! Aku bahkan tidak tahu apakah kami akan bertemu lagi setelah lulus SMA secara jurusan kami berbeda. Aku menghela nafas. "Nathan, seandainya aja aku sama kamu bisa berteman baik," lirihku. Aku memandang langit yang mendung saat ini. Menyendiri di taman dekat sekolah sambil merenungi nasib adalah aktivitas refreshingku yang lain selain rumpi bareng teman-teman. Tiba-tiba hujan pun turun, aku segera memasuki cafe dekat taman dan berteduh disana, "Yah, gak bawa payung, gimana nih? Bakalan lama dong disini," gumamku. "Pakai payungku aja dulu," ujar seorang cowok yang ada dibelakangku. otomatis aku membalikkan badanku dan mendapati cowok yang sangat aku kenal, Ervan. "Loh, Ervan? Kok kamu ada di kota ini? Bukannya minggu depan udah ujian ya, kok malah liburan?" Ervan hanya tertawa kecil, "Nggak, aku gak lagi liburan. Aku ada keperluan di kota ini. Urusan keluarga." Kemudian Ervan tersenyum. Sangat tampan. Inilah yang membuat aku tak bisa melupakannya, meskipun kini kami sudah tidak satu sekolah lagi dan terbentang jarak yang jauh (beda kota). "Hm begitu, berapa hari?' tanyaku. "3 hari ke depan, aku baru saja sampai di kota ini. Mau mengajakku berkeliling setelah ini?" Aku pun tersenyum lebar dan mengangguk antusias, "Tentu saja, tetapi kita sebaiknya menunggu hujan reda," Ervan pun mengangguk setuju. "Aku lapar, mau pesan sesuatu?" tanyaku sambil menyodorkan buku menu pada Ervan, "Disini makanannya enak-enak kok. Kadang sepulang sekolah aku makan siang disini," jelasku. Ervan tampak antusias, "Yaudah aku pesen spagetti sama caramel moccachino ya," aku memanggil pelayanan dan memberitahukan pesananku dan pesanan Ervan. "jadi, sekolahmu dekat sini?" tanyanya. Aku mengangguk, "Yup, 10 menit dari sini." "Kau bisa ajak aku kesana kalau begitu," jawabnya sambil tersenyum tulus. Ya Tuhan.... Kapan dia tidak tampan? Kemudian kami melanjutkan percakapan kami dan makan dalam diam sampai hujan reda.
*-------------------------------------------------------------------------------------------------------------*
"Nah, sekolahku disini Van." tunjukku ke sebuah gedung yang tak lain adalah sekolahku. "Hm, besar ya. Tapi tentu saja lebih besar sekolahku, haha" candanya sambil memeletkan lidahnya. Kemudian ku balas candaannya dengan pukulan ringan di lengannya, "Kamu tuh ya, dari jaman SMP sampe sekarang masih aja tetep gini, dasar" ujarku sambil memanyunkan bibirku. "Hey, bercanda. Jangan sok ngambek gitu deh, childish." cengirnya. Saat aku sibuk memanyunkan bibirku, tiba-tiba saja Nathan keluar berjalan dari halaman sekolah, sepertinya dia baru pulang. "Eh van, van. Liat deh ke cowok itu, mirip kamu kan?" Tunjukku ke arah Nathan pada Ervan, "Hm, iya! Cuma gaya rambutnya beda," jawabnya. Dia seperti......tidak tertarik? "Iya sih, cuman sifatnya dia tuh beda banget sama kamu van! Dia tuh dingin, gak berperasaan! Tapi cool sih," Ervan hanya tersenyum miring, dih nih anak kenapa sih? Kok kesannya aku jadi terlalu banyak ngomong gini. Kemudian Ervan mengacak rambutku, "Nggak baik membanding-bandingkan orang lain, oke? Jangan banding-bandingin aku sama dia. Kita bahkan gak saling kenal. Pulang yuk, udah mau gelap nih." Aku melongo mendengar perkataannya dan mengedip-ngedipkan mataku. Apa aku salah ngomong? Duh bego kan, jadi salah tingkah. "Maaf van, aku gak maksud banding-bandingin kamu sama Nathan. Yaudah yuk kita pulang," Ervan hanya mengangguk kemudian kami meneruskan berjalan, "Aku nggak nunggu kamu sampe dapet bis ya? Pasti ibu kost ku nanti nyariin," ucapku sedikit bersalah, Ervan menggeleng, "Nggak papa, udah pulang sana gih, besok kalo aku bisa keluar lagi, temenin jalan ya?" ujarnya sambil tersenyum tulus. Aku pun mengangguk. "Tentu, hubungi aku aja. Kalo gitu aku pulang dulu, bye van," aku pun melambaikan tanganku pada Ervan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar