Selasa, 13 Januari 2015

2 Sides of Him (Prologue)

Aku berlari menuju kelasku, "tidak! aku terlambat!". Tidak peduli sudah berapa orang yang ku tabrak, bagiku saat ini masuk ke kelas secepatnya dan berharap guruku dapat mentolerir kebiasaanku ini. "Oh shit! Telan saja aku bumi bila bu Rena menghukumku untuk membersihkan kamar mandi," umpatku kesal. Saat itu juga aku menabrak dada bidang seorang cowok hingga aku terjatuh, "Aduuh! Situ punya mata gak sih?! Nabrak orang sembarangan!" semburku pada cowok itu sebelum aku mendongakkan kepalaku suara bariton cowok itu pun mendahului,

 "Maaf? Kamu kan yang nabrak aku, kenapa aku yang salah?". Ujarnya datar, sangat tenang. Aku mendongakkan kepala ku dan holy shit! Dia tampan, sangat sangat tampan! "Ah ya, maaf." Ujarku tanpa melepaskan tatapan mataku padanya. Dia hanya menatapku. Beberapa detik hanya kecanggungan yang ada antara kami berdua. Kemudian dia hanya mengedikkan bahunya, "Cepatlah, sepertinya kau terlambat," ucapnya sembari berjalan meninggalkan ku. Aku membelalakkan mataku. Hanya gara-gara wajah tampan cowok itu aku lupa dengan situasiku saat ini. "Ah mama, tamatlah riwayatku hari ini." ucapku sembari berlari menuju kelasku.

*----------------------------------------------------------------------------------------*
"Terlambat lagi Siska?" sindir bu Rena-Guru Matematika ku yang terkenal killer abis- aku pun hanya tersenyum miring dan menggaruk tengkuk leher ku yang tidak gatal, "eh...err....hehe maaf bu, saya bangun kesiangan lagi," jawabku berusaha tenang. Bu Rena hanya menggelengkan kepalanya lelah dengan sikapku. "Terserahlah, ini mungkin sudah sekian ratus kalinya kamu terlambat dengan alasan yang sama Sisca. Duduk." ujar bu Rena. Aku membelalakkan mataku, "apa? Bu Rena tidak menghukum saya?!" tanyaku sedikit berteriak karena tak bisa menyembunyikan perasaan senangku, "Jadi kau lebih suka untuk saya hukum daripada tidak?" jawab bu Rena sambil tersenyum licik. "Nggak! Saya sangat senang, ah Bu Rena memang guru paling cantik, rajin menabung, berhati mulia, dan-" "Duduk Sisca sebelum saya berubah pikiran! Kau mengganggu pelajaran saya!" potong bu Rena. Aku hanya mengangguk dan berjalan menuju bangkuku. Kemudian pelajaran pun dilanjutkan. "Jadi? Belum ada niat berubah, hm?" Tanya teman sebangkuku, Diana. "Sebenernya aku mau bolos seharian, Din. Kamu kan tau aku paling anti sama wali kelas kita itu yang galaknya ngelebihin monster." jawabku sambil mencatat pelajaran yang dituliskan di papan oleh bu Rena. "Sis, kita itu udah kelas 3 akhir. Kalo kamu kayak gini terus, gimana Sis? Kamu kudu berubah." Aku menghela nafasku dan memutar bola mataku mendengar nasehat Diana entah yang ke berapa ratus kalinya. Pelajaran pun berlangsung tenang, aku berusaha untuk fokus karena mau tak mau aku harus menghadapi ujian akhir 3 bulan lagi. Tiba-tiba aku teringat dengan cowok tampan yang ku tabrak tadi. Ah begitu tampannya dia, sehingga aku pun tak sempat melihat name tag dan badge kelasnya. Kau payah Sisca! Tapi mengapa wajahnya mengingatkan aku akan seseorang? Ah ya! Dia mirip dengan cinta pertamaku di SMP dulu. Aku mengacak rambutku frustasi. Aku tak bisa konsen ke pelajaran gara-gara memikirkan wajah cowok itu dan cinta pertamaku di SMP, Ervan. Tak terasa bel istirahatpun berbunyi yang membuyarkan semua lamunanku. Kemudian Diana menyikut pinggangku, "Aw! Sakit nyong!" Diana hanya mendecakkan lidahnya, "Nglamun apa sih Sis? Katanya mau berubah buat fokus pelajaran tapi masih aja nglamun siang bolong gini," jawab Diana santai sambil menarik tanganku, "Ke kantin yuk Sis, laper!" aku melepaskan tanganku dari genggaman Diana dan menggelengkan kepalaku. "gak laper Din, gak mood." Diana menyipitkan matanya, "sejak kapan kamu gak mood-an gini? aneh, buruan deh. Siapa tau ntar ketemu cowok ganteng," jawab Diana sambil mengedip-ngedipkan matanya yang sukses membelalakkan mataku. Bener juga, siapa tau aku ketemu cowok itu lagi. Aku pun mengangguk dan bangkit dari kursiku. Sesampainya di kantin, dugaanku tepat. Dia disana dengan teman-temannya. Aku memperhatikan dia sambil menunggu pesanan yang udah dipesenin sama Diana. "Aku pesenin bakso ya Sis?" Aku pun terlonjak dari dudukku, "eh iya iya, terserah kamu aja," "nglamun lagi sampe kaget gitu? Demi apa kamu kenapa sih hari ini? Nglamun mulu, nglamunin apa? Atau nglamunin siapa, eh?" ujar Diana yang sukses membuat aku tersedak es teh ku. "apaan sih, bukan siapa-siapa juga," Diana mengendikkan bahunya, "Love makes people change," ujarnya sok puitis. Aku pun terbahak mendengar perkataannya. "apaan tuh? Sok banget ngomong gituan, nggak lah," Diana mengehela nafas panjang. "yayaya, aku kan cuma ngasih pendapat aja." Tak lama pesanan kami datang, entah kenapa aku tidak fokus pada makananku, aku masih menatap cowok dingin itu dari kejauhan. "Din," panggilku kepada Diana. "hm" "itu siapa sih? Cowok ganteng itu, yang wajahnya datar. Arah jam 2." tunjukku dengan daguku kepada Diana, Diana menoleh ke arah cowok yang ku maksud, "Nathan maksudmu? Anak IPS 3?" aku menyipitkan mataku. "Nathan Herdika, cowok paling irit bicara dan paling datar di angkatan kita. Cowok tampan yang susah diraih oleh cewek, cewek paling cantik di sekolah ini sekalipun," jelas Diana. Aku hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Diana. Jadi dia namanya Nathan? Dan irit bicara? Gimana caranya dong bisa kenal sama anak itu kalo cewek paling cantik aja dia tepis langsung. Tuh cowok homo apa gimana sih? "Kenapa? Kamu naksir Nathan?" Aku menoleh ke Diana, sejenak lupa akan hadirnya Diana disini selagi aku sibuk menilai Nathan. Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum kecut. "Nggak, aku tadi gak sengaja nabrak dia di koridor waktu aku lari ke kelas gara-gara terlambat." Diana hanya ber-oh ria sambil mengangguk kemudian dia melanjutkan memakan baksonya yang tertunda. Jadi namanya Nathan? Aku akan mencoba membuat kamu jadi nggak irit bicara lagi, Nathan. Tunggu saja.


hai-hai everybodeeh! ini adalah part pertama dari novel yang aku buat judulnya 'I love you, flat boy!' semoga kalian suka yaa^^ maaf typo bertebaran, feelnya gak dapet, bahasa yang nggak enak buat dibaca, dan lain-lain. maklum lah penulis amatiran. ditunggu kelanjutannya yaa^^ happy reading, thanks for visiting my box! Enjoy!
Tons of Love,

Alifia Larasati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar