"Fransisca Alina Anastasia,"
Deg..deg..deg.... Hari ini adalah hari pengumuman ujian nasional. Dan sekarang namaku telah dipanggil oleh bu Rena-wali kelasku yang super galak- untuk mengumumkan lulus tidaknya aku. Aku menelan ludah, berdiri dari bangku ku dengan gemetar. Diana-yang mendapat nilai memuaskan di ujiannya kali ini- mengelus pelan lenganku memberi dukungan, aku pun tersenyum dan berterima kasih padanya. Aku menghela nafasku dan menegakkan badanku. Ya! Aku siap dengan apapun hasilnya, 3 tahun aku jalani dan dipertaruhkan dalam 3 hari. Aku harus semangat! Aku berjalan dan menuju
ke meja bu Rena. Aku menarik nafas panjang kemudian menhela nafas, "Aku siap dengan apapun yang ada, Bu". Bu Rena mengangguk.
"Sisca.......selama ini kamu telah berjuang. Selama 3 tahun kamu menjalani hari-hari kamu disini untuk berperang demi masa depan kamu, dan-" Bu Rena menggantungkan kalimatnya, membuat aku memejamkan mataku dan menggigit bibir bawahku. Ya Tuhan... "-dan kamu lulus, dengan hasil yang memuaskan." Aku membuka mataku dan menatap bu Rena tak percaya. "A...apa?" "Selamat Sisca! Selamat menempuh hidup baru di universitas," ujar bu Rena sambil tersenyum tulus. "ALHAMDULILLAH! AKU LULUS! WOAAH!" aku pun berteriak girang tak dapat menyembunyikan perasaan senangku. Hingga bulir-bulir bening dari mataku pun keluar, "terima kasih ya Tuhan." syukurku. Tiba-tiba saja aku teringat Nathan, dia bagaimana? Lulus? Dengan hasil yang memuaskan? Aku tak tahu, sejujurnya aku ingin satu universitas dengannya. Tapi bahkan aku tak tahu dia akan melanjutkan kemana setelah SMA ini. Tapi yang ku dengar, dia akan melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Sedangkan aku harus kembali sekolah di kotaku, orang tuaku tidak ingin aku berpisah lagi dengan mereka. Aku menghela nafas panjang. Aku bangkit dari kursiku, hendak ke kelas Nathan. Ya, aku harus menahan gengsiku ini, dan mengatakan selamat tinggal padanya.
*-----------------------------------------------------------------------------------------------------------*
AUTHOR POV
"Nathan,"
Cowok itu menoleh ke sumber suara, dan mendapati cewek yang sudah lama di hindarinya 3 bulan ini.
"Bisa kita bicara?"
"Bicara disini aja, buruan mau ngomong apa?" jawab cowok itu santai, terlampau santai malah.
"Nggak enak, please. Kali ini aja turutin aku. Banyak temen-temen kamu disini."
Nathan memutar matanya dan menghela nafas. "Taman deket sekolah," dia pun berjalan melaluiku tanpa menolehkan kepalanya. Aku pun mengekor di belakangnya. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang mengisi. Baik aku maupun Nathan tak ada yang membuka suara. Kami berjalan dalam keheningan. Padahal jarak sekolah dengan taman hanya membutuhkan 5 menit dengan berjalan. Tapi dengan kecanggungan ini terasa lama sekali.
Akhirnya Nathan memilih duduk di bangku dekat kolam pancur, aku pun segera memposisikan diri duduk di sebelahnya. "Jaga jarak," Ucapnya pedas. Aku menoleh sebentar dan membuka mulutku hendak mengatakan sesuatu, tapi ku urungkan. Toh aku udah biasa digini'in sama Nathan. Udah tahan banting.
"Than, em aku minta maaf. Soal pertemuan kita terakhir kali. Aku nggak tau kenapa kamu kayak benci sama aku. Aku gak masalah. Tapi sekarang berhubung kita udah mau lulus, aku mau kita baikan. Gak musuhan." Aku menolehkan kepalaku sedikit untuk melihat reaksi Nathan, tapi Nathan seolah tak peduli. Dia terus memperhatikan kolam di depannya. Seolah kolam itu lebih menarik daripada pembicaraan ku. Aku menelan ludah. Dari samping ketampanan Nathan bertambah. Wajah nya yang maskulin, matanya yang teduh tetapi bila menatap setajam elang, rahang yang kokoh, hidung yang mancung, dan bibir tipis, ditambah kulitnya yang coklat menambah kesan gentle. Oh sial, pesona Nathan.. "Nathan, kalo aku bilang, aku suka kamu, gimana?"
Nathan menoleh ke arahku dengan wajah terkejutnya.
Satu detik..
Dua detik..
Tiga detik..
Nathan tak bereaksi, dia kemudian menolehkan wajahnya lagi ke kolam. Apa bagusnya sih kolam di depan itu daripada wajahku?!
"Kalau begitu aku tak menyukaimu. Kau aneh. Perempuan macam apa kau ini tak tahu malu menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada seorang lelaki?" Aku melongo selebar-lebarnya. Seandainya saja mencakar wajah di tempat umum diperbolehkan, pasti aku sudah mencakar muka Nathan habis-habisan kali ini. Jahat sekali dia.
Aku pun tertawa hambar. "Ya ya, ku akui kamu emang cowok gak berperasaan, sadis, bahkan Adolf Hitler kalah bengis sama kamu,"
Aku pun beranjak dari bangku taman itu. Bersiap menumpahakan segala yang tertahan di ujung mataku. Selesai sudah. Nathan tak menginginkanku, padahal aku baru selangkah memperbaiki hubungan. Tapi lihatlah dia? Nathan emang cowok paling jahat. Oke Nathan bila itu maumu.
Nah loh, Nathan jahat ya? Hehe maaf konfliknya cepet banget. Feelnya juga gak dapet. Tenang. Ini awal kisah lika-liku kehidupan percintaannya Sisca yaa^^ tunggu postingan selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar